
BANYAK yang bilang, perempuan adalah pengemudi paling buruk di dunia. Cap itu melekat di benak jutaan orang di seluruh dunia, terutama kaum pria.Padahal, anggapan itu tak sepenuhnya benar.
Dalam hal mengemudi, kemampuan menyetir perempuan memang lebih rendah dibandingkan pria. Penyebabnya adalah perbedaan susunan otak antara perempuan dengan pria. Secara umum, kecakapan mengukur ruang dan bentuk (visual spasial) laki-laki lebih unggul ketimbang perempuan.
Kemampuan inilah yang menunjukkan piawai tidaknya seseorang dalam menyetir mobil. Kelemahan perempuan lainnya adalah kecerdasan membaca peta, kurang konsentrasi, daya tahan fisik, serta rentan dipengaruhi pihak luar yang menghakimi kecakapan mengemudi.
Namun, dengan sederet alasan tersebut bukan berarti semua perempuan adalah pengendara yang buruk. Sekarang banyak juga perempuan dipercaya berada di belakang kemudi. Sopir bus TransJakarta misalnya. Jumlah sopir perempuan tak sebanyak pria, namun itu adalah bukti bahwa perempuan juga bisa.
Dodi Budiono, Head Trainer lembaga pelatihan mengemudi Indonesian Defensive Driving Center (IDDC) mengatakan bahwa hanya sedikit perempuan memahami konsep mengemudi dengan baik. Pasalnya sebagian besar dari mereka belajar menyetir secara autodidak.
Lebih parah lagi, dengan kemampuan 'biasa-biasa' mereka berani menyempatkan diri melakukan aktivitas lain secara bersamaan. "Perempuan sering mengemudi sambil bertelepon, membaca, mengirim SMS, bahkan berdandan, ini yang membuat resiko kecelakaan menjadi lebih besar," kata dia.
Di pihak lain,kendati pria sering dianggap sebagai pengendara tangguh, bukan berarti mereka tanpa cacat. Untuk hal-hal tertentu, laki-laki juga kerap melakukan kecerobohan.
Hanya saja bedanya jumlah pengemudi perempuan lebih sedikit dibanding laki-laki. Beberapa tahun terakhir,survei menunjukkan jumlah pengemudi perempuan terus bertambah. Karena itu,mereka disarankan untuk mengembangkan kemampuan berkendara di jalan raya untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Dalam hal mengemudi, kemampuan menyetir perempuan memang lebih rendah dibandingkan pria. Penyebabnya adalah perbedaan susunan otak antara perempuan dengan pria. Secara umum, kecakapan mengukur ruang dan bentuk (visual spasial) laki-laki lebih unggul ketimbang perempuan.
Kemampuan inilah yang menunjukkan piawai tidaknya seseorang dalam menyetir mobil. Kelemahan perempuan lainnya adalah kecerdasan membaca peta, kurang konsentrasi, daya tahan fisik, serta rentan dipengaruhi pihak luar yang menghakimi kecakapan mengemudi.
Namun, dengan sederet alasan tersebut bukan berarti semua perempuan adalah pengendara yang buruk. Sekarang banyak juga perempuan dipercaya berada di belakang kemudi. Sopir bus TransJakarta misalnya. Jumlah sopir perempuan tak sebanyak pria, namun itu adalah bukti bahwa perempuan juga bisa.
Dodi Budiono, Head Trainer lembaga pelatihan mengemudi Indonesian Defensive Driving Center (IDDC) mengatakan bahwa hanya sedikit perempuan memahami konsep mengemudi dengan baik. Pasalnya sebagian besar dari mereka belajar menyetir secara autodidak.
Lebih parah lagi, dengan kemampuan 'biasa-biasa' mereka berani menyempatkan diri melakukan aktivitas lain secara bersamaan. "Perempuan sering mengemudi sambil bertelepon, membaca, mengirim SMS, bahkan berdandan, ini yang membuat resiko kecelakaan menjadi lebih besar," kata dia.
Di pihak lain,kendati pria sering dianggap sebagai pengendara tangguh, bukan berarti mereka tanpa cacat. Untuk hal-hal tertentu, laki-laki juga kerap melakukan kecerobohan.
Hanya saja bedanya jumlah pengemudi perempuan lebih sedikit dibanding laki-laki. Beberapa tahun terakhir,survei menunjukkan jumlah pengemudi perempuan terus bertambah. Karena itu,mereka disarankan untuk mengembangkan kemampuan berkendara di jalan raya untuk mengurangi risiko kecelakaan.










